Kamis, 13 Januari 2011

Salman al Faarisy

Bagaimana salman meninggalkan agama kaumnya dan memeluk agama nashrani sampai akhirnya memeluk Islam?
Pemuda itu adalah Salman al faarisy. Ia adalah sahabat Rasulullah Shallallallahu 'Alaihi Wasallam.
Salman al faarisy berkata dalam riwayatnya;"saya pernah menjadi pemuda dari kalangan Ashbahaan, dari sebuah kampung yang bernama jayyun dan bapakku adalah kepala desa di daerah itu. Aku sangat disayang oleh bapakku karena ketaatanku dalam beribadah. Aku menganut agama Majusi yang menyembah api. Dan aku dipercayakan untuk mengurus api peribadatan itu dan menyalakannya.
Pada suatu hari bapakku menyuruhku keluar untuk suatu keperluan. Aku pun keluar dan lewat pada sebuah gereja. Aku mendengar orang yang sedang beribadah di dalamnya. Aku masuk melihatnya. Aku kagum dengan apa yang kulihat. Dalam hati kuberkata; "Agama mereka lebih baik dari agama yang kami anut selama ini'. Aku belum sempat untuk melaksanakan amanah dari bapakku. Aku tertarik untuk bertanya kepada orang nasrani tentang asal munculnya agama mereka. Mereka menjawabnya; "di negeri Syam". Sepulangku dari perjalanan itu kuceritakan pada bapakku tentang apa yang kulihat dan kekagumanku pada agama nasrani. Bapakku tidak senang dengan pernyataanku dan kami berselisih pendapat. Akhirnya aku dipasung dengan besi. Aku mengirim kabar kepada umat nasrani tentang keadaanku dan keinginanku untuk masuk kedalam agama nasrani. Aku meminta agar rombongan yang akan menuju ke negeri syam dapat membawaku ikut bersama mereka ke negeri tersebut. Akhirnya aku terbebas dari pasungan dan berangkat bersama mereka. Setelah kami tiba, aku bermaksud mendatangi orang yang alim diantara mereka dan aku ditunjukkan kepada seorang laki-laki yang bernama al asqaf yaitu pemilik gereja di tempat itu. Aku menceritakan keadaanku padanya. Aku beribadah bersamanya dan berguru padanya. Dalam kebersamaanku dengannya aku mendapati bahwa al asqaf adalah orang yang berperangai buruk. Ia mengumpulkan sedekah dari masyarakat dengan maksud untuk dibagikan akan tetapi sedekah itu ia ambil untuk dirinya sendiri. Hingga akhirnya ia pun meninggal. Didatangkanlah pendeta yang menggantikan posisi al asqaf. Aku tidak melihat orang yang paling taat beragama kecuali pada orang itu. Tidak pula yang lebih besar perhatiannya pada akhirat darinya. Dan yang lebih zuhud di dunia darinya. Aku sangat menyukainya. Ketika detik-detik ajalnya tiba, aku berkata padanya; "Sesungguhnya telah datang padamu ketentuan Allah, apa yang akan kau wasiatkan padaku dan siapa yang akan menasehatiku sepeninggalmu?. Ia berkata; "wahai anakku, aku tidak mengetahui seseorang yang menyamai apa yang telah kujalani kecuali seorang laki-laki. Setelah ia meninggal aku mendatangi orang itu dan kuceritakan tentang keadaanku padanya. Aku bersamanya sampai ajal pun menghampirinya. Aku meminta wasiat padanya, maka ia pun menyuruhku untuk pergi kepada seorang yang taat beribadah di negeri yang bernama nashiibiin. Aku mendatangi orang itu dan menceritakan keadaanku. Aku bersamanya sampai detil-detik ajanya tiba. Aku meminta wasiat padanya lalu ia menyuruhku untuk menemui seorang laki-laki di 'umriyyah yaitu di negeri Rum. Akau berangkat kesana. Aku bersamanya sampai akhir hayatnya. Aku meminta wasiat padanya, maka ia berkata; "wahai anakku, aku tak mengetahui seseorang yang menyamai kelebihan pada orang itu. Pergilah dan temui orang itu. Ia adalah orang yang diutus dengan membawa agama nabi Ibarahim yang hanif. Ia hijrah ke negeri yang terdapat pohon kurma. Jika kamu mampu untuk mengikhlaskan diri pada apa yang dibawanya maka kerjakanlah. Sesungguhnya orang itu mempunyai ciri-ciri yang nampak yaitu; ia tidak makan dari sedekah, ia menerima hadiah, dan diantara kedua pundaknya ada tanda kenabian. Jika engkau melihatnya maka engkau akan mengenalnya.
Pada suatu hari lewatlah sebuah rombongan lalu aku bertanya tentang negeri asal mereka. Ternyata mereka dari negeri arab. Kukatakan pada mereka; "Akan kuberikan pada kalian imbalan jika kalian bersedia membawaku kenegeri kalian'. Mereka pun setuju. Setelah kami tiba di suatu lembah, disanalah mereka menzhalimiku dan menjualku kepada seorang laki-laki dari agama yahudi. Aku menyaksikan pohon kurma yang banyak dan kuberharap agar negeri itulah yang aku cari. Dan negeri itu akan menjadi tempat hijrah bagi seorang nabi yang ditunggu-tunggu. Namun, harapanku belum terbukti. Aku tinggal bersama laki-laki yang membeli diriku. Hingga pada suatu hari, datanglah seseorang dari yahudi yaitu dari bany quraizhah dengan maksud untuk menemui tuanku. Akhirnya aku dijual kepada orang itu. Ia membawaku ke Madinah. Demi Allah tidaklah aku melihat negeri itu melainkan aku yakin bahwa negeri itulah yang kucari selama ini. Aku tinggal bersama orang itu dan bekerja untuk mengurus pohon kurmanya. Sampai akhirnya, Allah pun mengutus Rasul-nya. Rasulullah tiba di Madinah dan singgah di tempat yang dinamakan Quba tepatnya di bany 'Amru bin 'Auf.
Suatu hari aku berada di puncak pohon kurma sedangkan tuanku duduk dibawah pohon itu. Lalu datanglah seorang laki-laki dari keluarga pamannya. Orang itu berkata; "Semoga Allah membinasakan bany Qiilah, sesungguhnya mereka telah berkumpul sambil berdesak-desakan hanya untuk mengikuti seorang laki-laki yang tiba di Quba. Laki-laki itu datang dari Makkah dan orang-orang mengakui bahwa orang itu adalah seorang nabi'.
Demi Allah berita itu telah membuat sekujur badanku menggigil. Dan hampir saja aku terjatuh dan menimpa tuanku yang sedang duduk di bawah pohon. Kemudian aku bergegas turun dan bertanya kepada orang yang datang itu; “Apa yang anda katakana?. Kabar apa yang kamu bawa?”. Tiba-tiba saja aku di pukul oleh tuanku. Lalu ia berkata; "Apa urusanmu?. Teruskan pekerjaanmu!.”
Aku meneruskan pekerjaanku dan setelah sore tiba, aku mengemas barang-barangku dan pergi menemui Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam di Quba. Aku masuk menemuinya sedangkan Beliau sedang berkumpul bersama sahabatnya. Kukatakan pada Beliau; "Sesungguhnya kalian memiliki urusan penting dan datang dari jauh. Aku mempunyai makanan dan aku bernadzar untuk mensedekahkannya. Setelah kutahu keadaanmu aku merasa bahwa kalianlah yang berhak atas sedekah itu. Lalu aku mendatangi kalian bersama sedekah ini. Aku letakkan makanan itu dan Rasulullah berkata kepada sahabatnya; "Makanlah dengan menyebut nama Allah. Beliau pun tertahan dari memakannya. Beliau tidak mengulurkan tangannya untuk mengambil makanan itu. Dalam hati kuberkata; “Demi Allah, ini adalah salah satu tanda itu. Ia tidak makan dari sedekah". Kemudian aku pulang dan kembali menemui Rasulullah shallallahu 'Alaihi Wasallam pada waktu makan siang tiba. Aku membawa makanan. Kukatakan pada Beliau ; "Saya melihat bahwa engkau tidak makan dari sedekah dan aku mempunyai sesuatu yang ingin kuhadiahkan kepadamu sebagai hadiah. Aku letakkan hadiah itu di hadapannya. Beliau berkata pada sahabatnya; “Makanlah dengan menyebut nama Allah dan Beliau pun makan bersama mereka. Dalam hati kuberkata; "Demi Allah ini adalah tanda yang kedua. Ia makan dari hadiah”. Kemudian aku pulang dan berdiam beberapa waktu. Setelah itu aku pergi menemuinya kembali. Aku menjumpai beliau di Baqii. Rupanya Beliau telah mengantar jenazah bersama sahabatnya. Kuucapkan salam kepadanya kemudian aku berusaha melihat punggung bagian atas Beliau, Beliau tahu bahwa aku ingin melihatnya, lalu Beliau menurunkan kain selimutnya dari punggungnya. Maka tampaklah tanda kenabian itu diantara kedua pundaknya sesuai dengan yang dikabarkan oleh sahabatku. Lalu aku memeluk dan menciumnya sambil menangis. Beliau memanggilku dan aku duduk dihadapannya. Aku (salman al Farisi) menceritakan apa yang telah kualami sebagaimana yang kuceritakan pada kalian saat ini.
Akhirnya aku masuk Islam dan dilepaskan dari perbudakan. Aku ikut berperang bersama Beliau dalam perang khandaq dan semua peperangan.(Ringkasan dari al silsilah as shahihah 2/592 dengan beberapa perubahan)
Kisah ini menggambarkan perjalanan seorang pemuda yang mempunyai semangat tinggi untuk mencari kebenaran. Kebenaran itu akan mempertemukannya dengan sang kekasih yaitu Allah. Dengan segala cobaan yang menghadang ia berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain untuk menuntut ilmu agama dan mencari kebenaran. Ia rela menjadi budak demi cita-citanya. Allah membalas keikhlasannya dengan tercapainya cita-cita itu. Ia berhasil memperoleh predikat terbaik yaitu menjadi sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Ia dikarunai umur yang berberkah sehingga ia dapat mengambil peran yang mulia dalam memperjuangkan Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar anda

Sekretariat : Jl. Raya Namalean-Sikaru
Kataloka-Seram Bagian Timur,Tlp. 081341535713
Email : man.namsik@gmail.com
Kepala Sekolah : Safruddin, S.Pd